Ternyata Masalahnya Bukan di Ilmu, Tapi di…

Berdasarkan pengalaman selama sekian belas tahun ini, akar masalah dari 3 kesalahan-kesalahan tersebut sebenarnya sama.

Karena kita belum benar-benar melihat market secara utuh!

Selama ini kita cuma melihat market dari satu sisi. Kita cuma belajar dari satu sudut pandang.

Ada yang cuma belajar teknikal. Lalu mengira harga saham bergerak karena tarik-tarikan garis, pola-pola candlestick, atau mengikuti sinyal indikator.

Ada juga yang fanatik fundamental. Lalu berpikir bahwa harga saham pasti mengikuti kualitas laporan keuangan. Kalau laporan keuangan bagus, maka sahamnya (cepat atau lambat) pasti akan naik.

Ada lagi yang menganut paham “Bandarmology”. Lalu yakin bahwa analisis teknikal dan fundamental tidak berguna. Karena harga saham sudah ada yang mengatur.

Masing-masing merasa dirinya yang paling benar. Masing-masing merasa strateginya yang paling profit.

Dan kalau kita terus mendengarkan mereka, maka kita akan terus melakukan kesalahan yang sama. Lagi dan lagi.

  • Kita jadi “rabun jauh” (cuma memikirkan profit instant)
  • Kita gampang terpengaruh (karena tidak punya pegangan sendiri)
  • Kita jadi seperti tukang judi (selalu mencari saham jackpot)

Bagaikan Katak di Dasar Sumur…

Ibarat katak yang berada di dasar sumur.

Saat katak itu melihat ke atas, ke arah langit, dia mengira langit cuma sebesar lubang sumur.

Padahal langit yang sebenarnya itu jauh, jauh lebih luas daripada langit yang dia lihat dari lubang sumur itu!

Persis seperti itulah trader dan investor yang cuma fokus ke sudut pandang. Mereka yang cuma belajar teknikal. Mereka yang fanatik fundamental. Mereka yang penganut Bandarmology.

Padahal bursa saham itu luas. Bergerak. Dinamis. Hidup!

Ada yang disebut psikologi pasar. Ada emosi (euforia vs histeria) yang mendorong harga naik/turun.

Ada peran institusi (Smart Money dan Big Money). Dan ada logika di balik Supply dan Demand.

Dunia tidak selebar daun kelor yang mereka pegang!

Semakin Banyak Belajar, Malah Semakin Bingung…

Banyak dari kita yang masuk ke dunia investasi saham bukan dengan pemahaman yang utuh. Tapi dengan informasi yang cuma sepotong-sepotong.

Banyak dari kita yang belajar dari potongan konten di media sosial. Dari potongan-potongan video, potongan-potongan opini, tanpa kita paham konteks dan isi yang sebenarnya.

Kita cuma belajar dari konten “influencer”, rekomendasi group, atau dari video-video yang viral.

Kalau begitu caranya, ya tidak heran kalau semakin banyak belajar, kita malah semakin bingung. Karena sedari awal, semua yang kita dapat cuma sepotong-sepotong.

Tidak ada yang mengajarkan kita bagaimana cara melihat market secara utuh dan keseluruhan. Tidak ada yang mengajarkan kita cara melihat market secara gambaran besar (Big Picture).

Setiap “influencer” dan para “pakar saham” cuma fokus ke satu teknik yang mereka tahu. Mereka cuma fokus ke satu strategi yang menurut mereka “paling profit”.

Padahal bursa saham tidak sebesar daun kelor!

Ada hubungan yang logis antara fundamental dan bandarmology. Ada korelasi antara bandarmology dan teknikal. Dan ada pengaruh besar di antara fundamental dan teknikal.

Semua konsep dan strategi itu saling terkoneksi, kalau kita paham gambaran besarnya (Big Picture)!

Kalau Kita Paham Big Picture…

Kalau kita paham gambaran besarnya (Big Picture), maka:

  • Kita tahu kapan waktunya beli (Market Timing)
  • Kita tahu kapan waktunya jual dan (Profit Taking)
  • Kita paham cara mengelola risiko (Risk Management)
  • Kita tidak terpengaruh rumor dan omongan “influencer”
  • Kita bisa berpikir rasional, karena punya pegangan sendiri
  • Kita paham “rute” dan arah pergerakan setiap saham
  • Kita punya strategi investasi yang aman, logis dan realistis

Dalam buku Investing Black Book, gambaran besar ini kita rangkum dalam sebuah konsep yang disebut: Price Formation Cycle!