Jangan Asal Cut Loss! 4 Solusi Untuk Keluar dari Saham Nyangkut Tanpa Drama!
“The stock market is a device for transferring money from the impatient to the patient.”
— Warren Buffett
#RealistisAja
Saham nyangkut memang bikin dilema. Karena semuanya jadi serba salah.
Ditahan takut salah. Dijual takut salah juga.
Ditahan takut busuk. Dijual takut naik lagi.
Inilah salah satu moment yang paling menguras emosi kita. Dan boleh dibilang, hampir semua investor pasti pernah mengalaminya.
Kalau begitu solusinya bagaimana?
Solusi atas saham nyangkut, sebenarnya tergantung dari saham tersebut sedang ada di fase apa dalam Price Formation Cycle.
Saham nyangkut yang berada di fase yang berbeda, maka solusinya juga berbeda. Dan solusi itu TIDAK HARUS Cut Loss!
Ingat, saham tidak bergerak secara acak!
Setiap saham bergerak mengikuti sebuah siklus yang kita sebut Price Formation Cycle. Sebuah siklus alami yang menggambarkan bagaimana Smart Money (Bandar Saham) menggerakkan harga.
Dan memahami siklus ini adalah kunci untuk keluar dari saham nyangkut tanpa drama. 🙂
Sekarang, mari kita bahas fasenya satu per satu…
1. Fase Akumulasi
Saham yang sedang berada pada Fase Akumulasi, biasanya cenderung bergerak datar (sideways non-trending).
Harganya naik sedikit, turun sedikit. Tidak ada lonjakan harga yang tiba-tiba. Pun tidak ada pertambahan volume yang mencolok.
Namun di balik layar, sebenarnya Smart Money (Bandar Saham) sedang bekerja diam-diam.
Mereka membeli sahamnya pelan-pelan, lot demi lot, tanpa membuat harganya naik terlalu banyak.
Kalau kita punya saham nyangkut yang sedang berada di fase ini, jangan panik. Karena yang dibutuhkan adalah kesabaran.
Selama harga saham itu tidak menembus Support penting di bawahnya, maka boleh dibilang posisi kita masih aman.
Artinya: Tahan posisi. HOLD!
Salah satu masalah yang ada di fase ini adalah, kita tidak tahu Fase Akumulasi akan berlangsung berapa lama.
Mungkin seminggu, mungkin juga sebulan. Bahkan bukan tidak mungkin sahamnya diam di fase ini sampai berbulan-bulan.
Harganya tidak bergerak banyak, di situ-situ saja. Naik sedikit, turun sedikit.
Sehingga kalau misalnya, kita menemukan ada saham lain yang mulai menunjukkan tanda-tanda masuk ke fase berikutnya (Fase Mark Up), maka boleh dipertimbangkan untuk melakukan switch.
Silakan pindah ke saham tersebut, supaya kita tidak menunggu terlalu lama di saham yang cuma di situ-situ saja.
2. Fase Mark Up
Inilah fase yang paling diminati oleh banyak investor.
Pada Fase Mark Up, harga saham mulai naik, trend mulai terbentuk, dan mulai banyak “rumor” positif yang bermunculan.
Biasanya fase ini dimulai ketika ada FAKTOR-X yang mulai terkuak dan membuka mata banyak orang.
Entah itu laporan keuangan yang di atas ekspektasi, ekspansi bisnis, corporate action, atau apa pun yang membuat Smart Money berbondong-bondong masuk ke saham ini.
Pada fase ini, harga bergerak naik seperti “terbang” dengan cepat. Semakin banyak Smart Money (Bandar Saham) yang masuk ke saham itu, semakin tinggi pula naiknya.
Kalau kita punya saham nyangkut di fase ini, jangan buru-buru keluar. Sebaliknya, ini adalah moment terbaik untuk HOLD.
Kalau misalnya ada koreksi-koreksi teknikal, biasanya turunnya juga cuma sebentar. Kalau perlu, boleh dipertimbangkan untuk menambah posisi dan melakukan Average Down.
Karena selama trend utamanya tetap naik, maka profit sudah di depan mata!
3. Fase Distribusi
Fase Distribusi ini adalah fase yang sering menjebak. Karena sekilas memang terlihat mirip dengan Fase Akumulasi.
Harga saham terlihat stabil. Saham tidak bergerak banyak. Naik sedikit, turun sedikit.
Meski naik, naiknya tidak pernah menembus Resistance di atasnya. Ketika turun pun begitu, turunnya tidak pernah menembus Support di bawahnya.
Banyak investor terjebak, mengira fase ini adalah fase konsolidasi. Padahal sebenarnya, di balik layar, Smart Money (Bandar Saham) diam-diam sedang melakukan Profit Taking!
Pada fase ini, mereka menjual saham yang dulu mereka kumpulkan di Fase Akumulasi. Smart Money (Bandar Saham) melepas saham mereka, untuk dibeli oleh investor retail yang sedang tergoda euforia.
Kalau kita punya saham nyangkut di fase ini, keputusan terbaik adalah melakukan Recovery Switch. Lebih baik jual saja sahamnya, dan segera pindah ke saham lain yang lebih menjanjikan.
Sekali lagi, ini bukan sekedar Cut loss biasa. Ini adalah Recovery Switch. Kita jual bukan karena kita kalah, tapi karena ada peluang profit yang lebih baik di tempat lain.
Ingat, bagi seorang investor, profit adalah profit, titik. Tidak peduli kita dapat profit itu dari saham apa, atau dari sektor yang mana.
Kalau memang ada profit besar yang menunggu di tempat lain, kenapa kita harus bertahan di saham yang profit-nya sudah terbatas?
4. Fase Mark Down
Fase Mark Down adalah fase yang paling dilematis dan membuat frustrasi.
Karena pada fase ini, harga mulai turun perlahan-lahan, lalu makin lama turunnya makin cepat, hingga tiba-tiba jatuh dan “terjun bebas”.
Ini adalah fase dimana para Smart Money (Bandar Saham) berlomba-lomba untuk “buang kiri”. Mereka menjual sahamnya langsung di harga bid, agar bisa segera keluar dengan cepat.
AWAS! Ini bukan saat yang tepat untuk Average Down!
Justru sebaliknya, lebih baik lakukan Recovery Switch secepatnya. Lebih cepat lebih baik!
Semakin lama kita menunda, maka saham kita akan nyangkut semakin dalam, dan Cut Loss akan terasa semakin “menyakitkan”.
Kalau misalnya memang mau Average Down, lebih baik bersabar sebentar dan tunggu sampai harga menyentuh level Support kuat.
Jangan langsung buru-buru beli dan Average Down. Karena saham yang hari ini kelihatan sudah murah, besok masih bisa lebih murah lagi.
Sekali lagi, yang terbaik adalah Recovery Switch. Keluar dari saham ini, dan pindah ke saham lain yang lebih baik.
Karena apa gunanya kita datang ke pesta yang sudah selesai? Padahal di tempat lain ada pesta yang segera dimulai? 🙂
Solusi Saham Nyangkut: Bukan Soal Tahan atau Jual…
Solusi mengatasi saham nyangkut buat sekedar tahan atau jual. Bukan sekedar berani Cut Loss atau tidak. Bukan juga soal berani bertahan atau berani bersabar.
Solusi keluar dari saham nyangkut ada pada pemahaman kita tentang siklus pergerakan harga (Price Formation Cycle).
Kalau kita paham setiap fase yang ada dalam Price Formation Cycle, maka kita akan tahu:
- Kapan waktunya untuk bertahan
- Kapan saat yang tepat untuk Average Down
- Kapan kita harus melakukan Switch Recovery
Semua yang kita bahas sejauh ini baru kulitnya saja. Karena apa yang kita bahas baru apa yang kelihatan dari luar.
Masih ada cerita rahasia di balik layar, yang tidak diketahui oleh kebanyakan orang!
Dan kalau kita sudah tahu rahasianya, kita bukan saja bisa keluar dari saham nyangkut tanpa drama. Tapi kita juga bisa menghindari saham nyangkut, bahkan bisa profit konsisten dari aksi-aksi Smart Money (Bandar Saham)!
Inilah rahasia yang selama ini dicari-cari banyak investor…